Kota Puisi Delhi: Mengapa Delingha Layak Ditempuh Jauh

Delingha terletak tinggi di Dataran Tinggi Tibet, di Prefektur Otonom Mongol dan Tibet Haixi, Provinsi Qinghai — salah satu sudut Tiongkok yang paling kosong dan paling tinggi. Selama puluhan tahun kota ini adalah kota kereta api dan pangkalan pasokan, jenis tempat yang dilewati pelancong dalam perjalanan ke tempat lain. Lalu sebuah puisi membuatnya terkenal. Syair itu, yang beredar luas dan sering dikutip pembaca Tiongkok, mengubah nama kota menjadi sebuah suasana: sepi, jauh, romantis. Qinghai Daily, surat kabar provinsi, baru-baru ini memuat tulisan yang berargumen bahwa suasana itu meremehkan tempat ini.
Jantung kota adalah Sungai Bayin, yang mengalir lurus melaluinya. Di dataran tinggi, tempat lanskap sekitarnya sebagian besar berupa kerikil dan padang rumput kering, sungai yang benar-benar berair adalah keajaiban kecil. Deskripsi surat kabar itu hampir lembut: airnya melembutkan luasnya gurun gobi, dan pada malam hari lampu-lampu di sepanjang tepian serta angin sepoi yang lambat bersama-sama melukiskan kehidupan sehari-hari yang hangat dari sebuah kota kecil di dataran tinggi.
Kehidupan sehari-hari itulah alasan untuk datang, bukan sekadar membaca. Delingha bukan kota kawasan wisata dengan gerbang dan tiket. Kota ini punya jalan, restoran, jalur tepi sungai, dan orang-orang yang tinggal di sana sepanjang tahun dalam iklim yang menghukum kecerobohan. Musim dingin panjang dan dingin, musim panas singkat dan cerah, dan ketinggiannya — kota ini berada di atas 2.900 meter — berarti pengunjung sebaiknya merencanakan hari pertama yang lambat daripada jadwal yang padat.
Bagi wisatawan asing, Delingha adalah pelajaran tentang bagaimana pariwisata domestik Tiongkok sebenarnya bekerja. Sebuah tempat bisa menjadi terkenal bukan melalui kampanye pemasaran, melainkan melalui sebaris puisi yang setengah diingat jutaan orang dari sekolah atau media sosial. Hasilnya adalah aliran pengunjung yang tetap datang dengan gambaran mental dan pergi dengan gambaran berbeda — sungai, cahaya, makanan, angin.
Wilayah yang lebih luas memberi imbalan atas pengalihan rute. Haixi memiliki danau garam, pemandangan gurun, dan dataran garam Qarhan, dan jalur kereta api yang melintasinya adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Pelancong yang menuju Lhasa atau berkeliling Qinghai sering berhenti di sini, tetapi banyak yang menganggapnya sekadar jeda di antara nama-nama besar. Inti tulisan surat kabar itu adalah bahwa jeda itu layak diperpanjang.
Ada sisi praktisnya juga. Kota dataran tinggi menuntut rasa hormat: hidrasi, perlindungan matahari, dan kesadaran realistis tentang seberapa banyak berjalan kaki yang bisa dilakukan pada hari pertama. Daya tarik Delingha justru karena tidak menawarkan tontonan. Kota ini menawarkan sungai, malam yang hangat, dan perasaan aneh berdiri di tempat yang ada dalam puisi dan juga, dengan keras kepala, dalam kehidupan nyata.
Jurang antara kota yang dibayangkan dan kota yang sebenarnya itulah yang membuat perjalanan ini berharga. Puisi itu membawa orang ke peta. Sungai, lampu-lampu, dan malam-malam dataran tinggi yang lambat adalah yang membuat mereka tinggal sedikit lebih lama dari rencana.