Kuning Kodak Kini Jadi Label Fesyen, dan Raksasa Film Itu Bahkan Tak Menjual Film

Bayangkan sebuah toko pakaian yang seluruh paletnya kuning, merah, dan hitam, dan satu-satunya hiasan pada sweatshirt adalah huruf K besar. Musim gugur lalu, sebuah toko di kawasan Seongsu-dong, Seoul — bekas kawasan industri yang kini penuh concept store dan pop-up — menarik antrean panjang justru karena itu. Merek di baliknya adalah Kodak, perusahaan Amerika yang oleh kebanyakan orang diasosiasikan dengan tabung film dan album foto keluarga.
Kuning yang sama muncul di Shanghai pada Mei tahun ini. Di dalam toko kota bergaya bioskop retro di Zhangyuan, blok warisan yang telah direstorasi di pusat kota, pengunjung muda mengangkat ponsel untuk memotret boneka plush bernama Hirono yang mengenakan setelan one-piece kuning. Hirono adalah karakter koleksi dari dunia mainan desainer, dan kolaborasi ini menempatkan warna Kodak di samping sosok yang sudah punya basis penggemar sendiri. Dua kota, dua format ritel yang sangat berbeda, satu identitas visual yang sama.
Identitas itulah intinya. Skema kuning-merah Kodak adalah salah satu sistem warna paling dikenal dalam sejarah konsumen, terbangun selama puluhan tahun ketika kotak film perusahaan itu tersimpan di laci dan tas kamera di seluruh dunia. Bahkan saat film kimia memudar dari kehidupan sehari-hari, palet itu tetap berfungsi — pada kemasan, pada papan nama, pada tepi foto yang masih dipindai dan dibagikan orang.
Yang dijual di sini bukanlah fotografi. Merchandise-nya adalah pakaian dan mainan, dan daya tariknya bernuansa nostalgia, bukan praktis. Bagi pembeli muda yang tak pernah memasang rol film, daya pikatnya adalah tampilan: berani, sederhana, sedikit retro, dan mudah difoto. Bagi yang lebih tua, ini jalan pintas kembali ke ulang tahun, karyawisata, dan amplop cetakan foto yang dulu datang dari lab.
Ini adalah playbook yang familier bagi merek warisan dengan aset visual kuat. Lisensikan merek kepada mitra yang bisa mendesain dan mendistribusikan pakaian, aksesori, dan barang koleksi, lalu biarkan perusahaan induk memungut royalti sementara pihak lain menanggung risiko persediaan. Merek menjadi suasana hati ketimbang lini produk, dan suasana itu bisa merambah kategori yang tak pernah disentuh bisnis aslinya.
Contoh Shanghai menunjukkan mengapa strategi ini cocok terutama untuk lanskap ritel Tiongkok. Budaya mainan desainer, toko pop-up, dan interior yang ramah foto kini menjadi bagian standar dari cara konsumen urban muda menghabiskan akhir pekan. Skema warna yang mudah dikenali memberi etalase cerita instan, dan barang koleksi memberi pembeli sesuatu untuk dibawa pulang dan diunggah. Batas antara kolaborasi merek dan atraksi wisata nyaris melebur.
Risikonya adalah warna semata tidak membangun loyalitas. Hoodie kuning mudah ditiru, dan label berlisensi bisa terjerumus menjadi sekadar kejutan jika produknya tak tahan lama. Antrean di Seoul dan kerumunan foto di Shanghai adalah sinyal yang menggembirakan, tetapi keduanya mengukur kebaruan sama besar dengan kasih sayang.
Meski begitu, kontrasnya mencolok. Perusahaan yang namanya dulu identik dengan medium fisik kini berdagang lewat tampilan medium itu, di kota-kota yang hanya sedikit pelanggannya pernah mencuci rol film. Apakah kuning Kodak bisa terus menjual pakaian dan mainan plush tanpa bisnis film di belakangnya adalah pertanyaan yang akan dijawab oleh putaran pembukaan toko berikutnya.